*Mungkinkah Korea Utara Sudah Siap Berperang?

Korut

KODEMIMPI - Perang Korea tahun 1950-1953 secara resmi memecah Semenanjung Korea menjadi dua negara, Korea Utara dan Korea Selatan. Berbagai upaya telah diusahakan untuk mencapai perdamaian, tetapi tidak ada yang mencapai hasil memuaskan.

Perdamaian yang tidak kunjung tercapai mengakibatkan kedua negara itu masih sering terlibat konflik. Masih ada yang berpendapat bahwa keduanya akan kembali berperang seperti dahulu lagi.

Spekulasi akan adanya Perang Korea seri kedua mulai menguat saat Korea Utara mengancam Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) dengan serangan nuklir atau mereka sebut dengan “perang pemusnahan” di tahun 2017. Setelah AS dan Korea Utara gagal mencapai kesepakatan di Hanoi pada Februari 2019, situasi keamanan di Semenanjung Korea kembali seperti biasanya, tentu masih dengan beberapa konflik. Namun, hal ini menjadi lebih buruk karena dinamika senjata nuklir terus berkembang.

Ketegangan kian meningkat sepanjang tahun 2023 ketika Korea Utara meluncurkan satelit mata-mata serta rudal balistik antarbenua berbahan bakar padatnya.

Menanggapi peluncuran satelit mata-mata pada 21 November itu, Korea Selatan menangguhkan sebagian dari perjanjian militer tahun 2018 yang bertujuan meredakan ketegangan antara kedua negara dan melanjutkan pengawasan udara di dekat perbatasan.

Korea Utara kemudian merespon dengan menangguhkan seluruh perjanjian tersebut lalu mengembalikan pos-pos penjaga perbatasan.

  • Ketegangan Meningkat

Sejak awal tahun 2024, hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan kembali memburuk. Media nasional Korea Utara pada 1 Januari melaporkan janji Kim untuk “memusnahkan” Korea Selatan jika diprovokasi. Beberapa hari kemudian, Korea Utara menembakkan peluru artileri di dekat perbatasan laut yang disengketakan di lepas pantai barat Korea Selatan.

Beberapa minggu setelahnya, Korea Utara mengatakan pihaknya telah melakukan uji balistik pertamanya di tahun ini termasuk dengan melakukan uji terbang rudal jarak sedang berbahan bakar padat yang dilengkapi dengan hulu ledak hipersonik.

Korea Utara juga melakukan uji coba lain terhadap drone serangan bawah air berkemampuan nuklir sebagai protes terhadap latihan militer gabungan yang dilakukan AS, Korea Selatan, dan Jepang.

Korea Utara juga dilaporkan semakin menjaga hubungan dekat dengan China dan memperkuat hubungannya dengan Rusia. Saat kunjungan Menteri Luar Negeri Korea Utara ke Moskwa, Rusia pada Januari lalu, Rusia mengatakan bahwa Korea Utara adalah “mitra yang sangat penting” dan kedua negara tersebut sedang mengembangkan hubungan di semua bidang, termasuk bidang yang “sensitif”.

Puncak hancurnya hubungan Korea Utara dan Korea Selatan terjadi di 15 Januari ketika Kim Jong-Un mengumumkan bahwa Korea Utara tidak akan lagi mengupayakan reunifikasi dengan Korea Selatan. Kim juga menyebut Korea Selatan sebagai musuh utama Korea Utara.

Para ahli Korea Utara umumnya sepakat bahwa situasi di Semenanjung Korea semakin berbahaya. Selain itu, para ahli juga berpendapat, Pyongyang tampaknya telah mengubah pendekatannya dalam beberapa tahun terakhir yang membuatnya menjadi lebih mengandalkan China dan Rusia.

“Ada keinginan yang lebih besar untuk melakukan konfrontasi dengan Korea Selatan karena ada perasaan bahwa negara tersebut dilindungi,” kata Scott Snyder, peneliti senior untuk studi Korea dan direktur program kebijakan AS-Korea di Dewan Hubungan Luar Negeri.

Di sisi lain, presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, yang terpilih tahun 2022,memiliki pendekatan yang lebih keras terhadap Korea Utara dibandingkan dengan presiden sebelumnya

“Kedua pemimpin menutup dialog dan lebih siap menunjukkan kekuatan militer mereka,” kata Yang Moo-jin, rektor Universitas Studi Korea Utara di Seoul.

  • Tidak Yakin

Ada beberapa pihak yang tidak sepakat bahwa Korea Utara akan melancarkan perang. Kim “akan terus melontarkan bom kata-kata untuk mempertahankan ketegangan tingkat tinggi,” kata mantan Menteri Pertahanan Korea Selatan, Shin Beom-chul.

“Tetapi saya yakin Kim Jong Un tidak akan bisa mewujudkan kata-katanya, karena kepemimpinannya akan sangat terluka begitu dia melancarkan provokasi militer yang serius dan dipadamkan oleh aliansi Korea Selatan-AS."

Meski demikian, para ahli juga berkata bahwa akan selalu ada resiko konflik yang tidak disengaja, merujuk pada kejadian seperti penembakan Korea Utara di bulan Januari.

“Segala sesuatunya dapat dengan cepat menjadi tidak terkendali,” kata Lami Kim, profesor di Pusat Studi Keamanan Asia-Pasifik Daniel K. Inouye di Honolulu. “Penembakan atau provokasi skala kecil bisa sangat berbahaya.”

Namun jika menyangkut perang yang direncanakan, ada sejumlah faktor yang menghalangi Korea Utara. Pertama, senjata konvensional milik Korea Utara masih tidak sebanding dengan senjata Korea Selatan.

Kedua, Korea Utara masih kekurangan cadangan makanan dan minyak yang diperlukan untuk melancarkan konflik semacam itu.

Terakhir dan yang paling penting, Korea Utara sebenarnya masih kekurangan dukungan dari China dan Rusia yang masih lebih memilih mempertahankan status quo-nya, demikian penjelasan Yang.

Yang juga menjelaskan bahwa AS harus mengambil keuntungan dari pengaruh China terhadap Korea Utara karena menurutnya “upaya pencegahan AS-Korea Selatan saja tidak dapat mengendalikan dan menghentikan agresi Korea Utara.”

Di Korea Selatan, gertakan Kim sama sekali tidak mengesankan untuk orang-orang seperti Margie Kim, seorang warga Seoul. Ia mengatakan bahwa menyerang Korea Selatan akan sama saja seperti “bunuh diri.”

“Kim Jong Un tidak mungkin serius dengan gertakannya untuk berperang melawan Korea Selatan,” kata Kim kepada NBC News. “Saya mendengarnya berulang kali, jadi saya tidak bisa menganggap serius ancamannya.”

Sampai detik ini, kedua belah pihak masih rutin melakukan uji coba senjata. Termasuk Korea Utara yang dilaporkan baru-baru ini melakukan uji coba tank tempur baru. Bahkan, Kim Jong Un sendiri ikut duduk di dalam tank selama uji coba berlangsung.